Selamat pagi anak-anakku semua, melanjutkan materi yang kemarin, untuk hari ini kita akan membahas tentang kebahasaan hikayat.
Jangan lupa!!! Terlebih dahulu silakan disiapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting dalam materi berikut.
Membandingkan Hikayat dengan Cerita Pendek
Cerpen dan hikayat memiliki persamaan dalam hal unsur-unsurnya, yakni terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
Berikut ini uraian terperinci mengenai unsur hikayat.
a) Tema
Adalah inti atau ide pokok dalam cerita. Tema merupakan pangkal pokok pengembangan isi cerita. Dapat pula diartikan sebagai gagasan yang menjalin struktur isi cerita.
Untuk merumuskan tema, kita harus mengenali unsur-unsur intrinsiknya, yaitu:
1) Melalui alur cerita
2) Melalui tokoh cerita
3) Melalui bahasa yang digunakan dalam cerita.
b) Amanat
Merupakan ajaran moral/pesan yang hendak disampaikan dalam sebuah cerita. Amanat dapat disampaikan secara tersirat, ataupun tersurat. Amanat sering dikaitkan dengan tema cerita.
c) Latar
Latar adalah tempat, waktu, suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh.
d) Penokohan
Penokohan adalah teknik dalam menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter tokoh tersebut, sebuah cerita dapat menggunakan teknik sebagai berikut.
1) Teknik analatik, karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang.
2) Teknik dramatik, karakter tokoh dikemukakan melalui:
Penggambaran fisik dan perilaku tokoh
Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
Penggambaran tata kebahasaan tokoh
Pengungkapan jalan pikiran tokoh
Penggambaran oleh tokoh lain.
e) Pengaluran
Disebut juga plot atau rangkaian cerita. Namun ada juga para ahli yang membedakan antara plot dan alur. Menurutnya alur sama dengan rangkaian cerita, sedangkan plot merupakan rangkaian cerita yang memiliki hubungan sebab akibat.
Contoh alur sebagai rangkaian cerita : Patih Jalagalodra ingin menemui anak gadisnya itu tanpa ketakutan; ingin mendekapnya, mencium bau keringatnya. Dalam pikirannya, hanya anak gadisnya yang masih mau menyambut dirinya dan mungkin ibunya, seorang janda yang renta tubuhnya, masih berlapang dada menerima kepulangannya, Di sudut-sudut kerajaan selalu saja ditemukan masjid walaupun ukurannya berbeda-beda. Begitu terdengan azan, orang-orang berhamburan masuk ke dalamnya untuk menunaikan salat wajib. Dia bilang, bukan maksudnya menyebarkan fitnah ataupun provokasi. Namun apa yang diucapkannya benar-benar membuat para punggawa kerajaan marah. Putri bungsu paling pandai bercerita, menyanyi, dan menari. Tak jarang ia bertandang ke pendopo sambil membawa aneka oleh-oleh dari hutan.
f) Sudut Pandang
Sudut pandang adalah arah pandang seorang
penulis dalam menyampaikan sebuah cerita, sehingga cerita tersebut lebih
hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembaca atau pendengarnya.
Dengan kata lain, sudut pandang merupakan cara penulis
memandang/menempatkan dirinya dalam sebuah cerita.
Hikayat biasanya menggunakan sudut pandang orang ketiga, hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan kata ganti orang ketiga (ia, dia, mereka, ataupun dengan penyebutan nama tokoh) .
g) Gaya Bahasa
Pada hikayat, gaya bahasa yang digunakan bersifat statis, yaitu biasanya menggunakan ungkapan arkhais. Pada hikayat penggunaan majas masih digunakan secara baku dan konsisten, berbeda pada cerpen majas biasanya hanya digunakan sebagai selingan, bahasanya lebih dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Nah untuk selanjutnya kita akan membahas lebih mendalam lagi tentang gaya bahasa dalam hikayat, atau lebih spesisifiknya yaitu Majas atau istilah Internasionalnya disebut "Figures of Speech". Jadi majas tidak hanya digunakan dalam Bahasa Indonesia saja.
Sudah pernah tau sebelumnya apa itu majas???
Majas adalah gaya bahasa yang digunakan penulis
untuk menyampaikan sebuah pesan secara imajinatif dan kias. Hal ini
bertujuan membuat pembaca mendapat efek tertentu dari gaya bahasa
tersebut yang cenderung ke arah emosional. Biasanya, majas bersifat
tidak sebenarnya alias kias ataupun konotasi.
Macam-macam Majas
Mengenai macam-macamnya, majas dapat dibagi menjadi empat kelompok
besar, yaitu majas perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan.
Untuk subjenis majas sendiri ada sekitar 42 subjenis majas, tapi untuk kali ini kita hanya akan membahas 19 majas yang umum atau sering digunakan dalam penulisan. Nah, berikut penjelasan lebih lanjutnya.....
Majas Perbandingan
Jenis majas ini merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk
menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek lain melalui
proses penyamaan, pelebihan, ataupun penggantian. Dalam majas
perbandingan, kalian akan menjumpai beberapa subjenisnya.
1. Personifikasi
Gaya bahasa ini seakan menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia.
Contoh Majas: Daun kelapa tersebut seakan melambai kepadaku dan mengajakku untuk segera bermain di pantai.
Yaitu meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan.
Contoh: Pegawai tersebut merupakan tangan kanan dari komisaris
perusahaan tersebut. Tangan kanan merupakan ungkapan bagi orang yang
setia dan dipercaya.
3. Asosiasi
Yaitu membandingkan dua objek yang berbeda, namun dianggap sama dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, ataupun seperti.
Contoh: Kakak beradik itu bagaikan pinang dibelah dua. Artinya, keduanya memiliki wajah yang sangat mirip.
4. Hiperbola
Yaitu mengungkapkan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal.
Contoh: Orang tuanya memeras keringat agar anak tersebut dapat terus bersekolah. Memeras keringat artinya bekerja dengan keras.
5. Eufemisme
Gaya bahasa yang mengganti kata-kata yang dianggap kurang baik dengan padanan yang lebih halus.
Contoh: Tiap universitas dan perusahaan sekarang diwajibkan menerima difabel. Difabel menggantikan frasa “orang cacat”.
6. Simile
Hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata hubungan bak, bagaikan, ataupun seperti; hanya saja simile bukan membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan.
Contoh: Kelakuannya bagaikan anak ayam kehilangan indukan
Majas Pertentangan
Majas pertentangan merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata
kias yang bertentangan dengan maksud asli yang penulis curahkan dalam
kalimat tersebut. Jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa subjenis,
yakni sebagai berikut.
1. Litotes
Berkebalikan dengan hiperbola yang lebih ke arah perbandingan,
litotes merupakan ungkapan untuk merendahkan diri, meskipun kenyataan
yang sebenarnya adalah yang sebaliknya.
Contoh: Selamat datang ke gubuk kami ini. Gubuk memiliki artian sebagai rumah.
2. Paradoks
Yaitu membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikannya.
Contoh: Di tengah ramainya pesta tahun baru, aku merasa kesepian.
3. Antitesis
Yaitu memadukan pasangan kata yang artinya bertentangan.
Contoh: Film tersebut disukai oleh tua-muda.
Majas Sindiran
Majas sindiran merupakan kata-kata kias yang memang tujuannya untuk
menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Jenis ini terbagi
menjadi tiga subjenis, yaitu sebagai berikut.
1. Ironi
Yaitu menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada.
Contoh: Rapi sekali tulisanmu, sampai-sampai aku tidak bisa membacanya.
2. Sinisme
Yaitu menyampaikan sindiran secara langsung.
Contoh: Suaramu keras sekali sampai telingaku berdenging dan sakit.
3.Sarkasme
Yaitu menyampaikan sindiran secara kasar.
Contoh: Kamu hanya sampah masyarakat tahu!
Majas Penegasan
Majas penegasan merupakan jenis gaya bahasa yang bertujuan
meningkatkan pengaruh kepada pembacanya agar menyetujui sebuah ujaran
ataupun kejadian. Jenis ini dapat dibagi menjadi tujuh subjenis, yaitu
sebagai berikut.
1. Pleonasme
Yaitu menggunakan kata-kata yang bermakna sama sehingga terkesan tidak efektif, namun memang sengaja untuk menegaskan suatu hal.
Contoh: Ia masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah semringah.
2. Repetisi
Gaya bahasa ini mengulang kata-kata dalam sebuah kalimat.
Contoh: Dia pelakunya, dia pencurinya, dia yang mengambil kalungku.
3. Retorika
Yaitu memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya yang tidak perlu dijawab.
Contoh: Kalau kamu tetap seperti itu apa kamu mau tidak naik kelas?
4. Klimaks
Yaitu mengurutkan sesuatu dari tingkatan rendah ke tinggi.
Contoh: Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang tua seharusnya memiliki asuransi kesehatan.
5. Antiklimaks
Berkebalikan dengan klimaks, gaya bahasa untuk antiklimaks menegaskan
sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke rendah.
Contoh: Masyarakat perkotaan, perdesaan, hingga yang tinggi di dusun seharusnya sadar akan kearifan lokalnya masing-masing.
6. Pararelisme
Gaya bahasa ini biasa terdapat dalam puisi
yakni mengulang-ulang sebuah kata dalam berbagai definisi yang berbeda.
Jika pengulangannya ada di awal, disebut sebagai anafora. Namun, jika
kata yang diulang ada di bagian akhir kalimat, disebut sebagai epifora.
Contoh majas: Kasih itu sabar.
Kasih itu lemah lembut.
Kasih itu memaafkan.
7. Tautologi
Yaitu menggunakan kata-kata bersinonim untuk menegaskan sebuah kondisi atau ujaran.
Contoh: Hidup akan terasa tenteram, damai, dan bahagia jika semua anggota keluarga saling menyayangi.
Demikian tadi materi untuk pembelajaran hari ini.
Tetap semangat belajar dan selalu jaga kesehatan....
Selanjutnya silakan melakukan presensi pada tautan di bawah ini
Presensi Bahasa Indonesia (18-11-2020)